Menu Close

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sriwijaya Telusuri Jejak Budaya di Kampung Kapitan 7 Ulu Palembang “Eksplorasi Sejarah, Akulturasi dan Nilai Sosial Budaya”

https://pendidikanekonomi.fkipunsri.org/, Palembang 13 Februari 2026 hari Kamis, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sriwijaya melaksanakan kegiatan kunjungan edukatif ke kawasan bersejarah Kampung Kapitan daerah 7 Ulu Kota Palembang. Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan mata kuliah Kewirausahaan Lanjut Berbasis Keunggulan Lokal Sumatera Selatan. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperluas pemahaman mahasiswa mengenai keterkaitan antara sejarah, budaya dan dinamika sosial ekonomi masyarakat khususnya dalam melihat warisan budaya sebagai sumber pembelajaran dan potensi ekonomi lokal.

Kegiatan kunjungan dan kuliah tamu ini didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan Lanjut Berbasis Keunggulan Lokal Sumatera Selatan, yaitu Dr. Dwi Hasmidyani, M.Si dan Dian Eka Amrina, S.Pd., M.Pd., serta dua dosen Pendidikan Ekonomi lainnya, yakni Yuliana FH, S.Pd., M.Pd. dan Dewi Pratita, S.Pd., M.Pd. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu merancang ide dan model usaha kewirausahaan yang memanfaatkan kearifan lokal Sumatera Selatan sebagai dasar pengembangan usaha yang inovatif dan berkelanjutan.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada dua bangunan utama yang memiliki fungsi dan karakter berbeda, yakni Rumah Kapitan dan Rumah Abu. Rumah Kapitan berfungsi sebagai pusat aktivitas keluarga sekaligus tempat kepemimpinan kapitan Tionghoa pada masanya, dengan arsitektur yang memadukan unsur budaya Tionghoa dan Palembang. Sementara itu, Rumah Abu digunakan sebagai tempat penyimpanan benda pusaka serta altar penghormatan kepada leluhur, sehingga memiliki suasana yang lebih sakral dan tertutup.

Mahasiswa juga mendapatkan penjelasan mengenai kamar khusus yang dahulu disediakan untuk Tan Bun An dan istrinya, Siti Fatimah. Kamar tersebut memiliki nilai historis yang kuat dan mencerminkan kedudukan Tan Bun An sebagai pemimpin komunitas Tionghoa pada masanya. Menurut cerita masyarakat setempat, kamar ini disediakan ketika Tan Bun An dan istrinya pulang ke kawasan Kampung Kapitan agar keduanya dapat singgah dan beristirahat. Keberadaan kamar ini menjadi simbol harmonisasi budaya dan integrasi sosial melalui pernikahan lintas budaya antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Palembang.

Selain itu, mahasiswa dikenalkan pada tradisi minum teh yang dilakukan setiap pagi dalam budaya dan kepercayaan Tionghoa. Teh dipandang sebagai simbol ketenangan, keseimbangan, dan rasa syukur sebelum memulai aktivitas. Dalam praktik tertentu, penyajian teh juga dikaitkan dengan penghormatan kepada leluhur, sehingga memiliki makna filosofis dan spiritual yang mendalam.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sriwijaya diharapkan mampu mengaitkan teori ekonomi yang dipelajari di bangku kuliah dengan realitas sosial di lapangan. Kampung Kapitan tidak hanya menjadi saksi sejarah masa lalu, tetapi juga ruang belajar nyata tentang akulturasi budaya, pelestarian warisan, dan pengembangan potensi ekonomi lokal berbasis kearifan budaya.